by

Alloh Bersama Hamba Yang Berdoa Kepadanya

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِيْ

Dari Abu Hurairah ~radhiyallahu ‘anhu~, ia berkata : Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallama~ bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia berdoa kepada-Ku.’” [HSR. Imam Muslim ~rahimahullahu~ dalam kitab shahihnya no. 7005, Maktabah Syamilah]

Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian menarik yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rasulullah Saw. Anas bercerita, “Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah Saw kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga. Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.”

Ketika majlis Rasulullah Saw. selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian dia berkata kepadanya, “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kau memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu?”

Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang itu selama tiga malam. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu istimewa di dalam ibadahnya. Setelah ditanyakan amalan apa, orang Anshar itu menjawab, “Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang kau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap sesama muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka”

Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.”

Kisah ini mengajarkan hal yang amat sederhana mengenai delik-delik kehidupan sehari-hari kita namun tampaknya sulit untuk dilakukan, yakni ajaran untuk selalu berprasangka baik kepada sesama manusia, terutama kepada sesama muslim.

Berprasangka baik ini, berdasarkan kepada kisah di atas, merupakan salah satu prasyarat bagi masuk atau tidaknya seseorang ke dalam surga. Sahabat Anshar, meski jika dilihat dari segi ibadah tidak ada yang istimewa seperti yang diamati oleh Abdullah bin Amru bin al-Ash pada kisah di atas, namun karena selalu berprasangka baik terhadap sesama, akhirnya ia dikategorikan oleh Nabi sebagai calon penghuni surga. Sebuah amalan yang kelihatannya sangat sederhana namun amat sulit dilakukan.

Artinya, berbaik sangka dan menghilangkan kedengkian sesama muslim yang berbeda paham dari kita merupakan sebuah prasyarat bagi menjadi muslim yang baik, muslim yang bakal menjadi penghuni surga kelak. Dalam Alquran disebutkan bahwa tidak selayaknya suatu golongan mencela golongan yang lain karena bisa jadi golongan yang dicela itu lebih baik daripada golongan yang mencela atau yang menghina (QS. Al Hujuraat:11).

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslim itu harus menganut keraguan yang positif yang dampaknya sangat baik bagi kehidupan ke depan. Maksud dari keraguan atau skeptisisme positif ala Alquran ini ialah bahwa kita harus menanamkan nilai dalam diri sendiri bahwa bisa jadi paham yang dianut oleh saudara kita itu dinilai lebih baik dan benar di mata Allah SWT daripada paham yang kita anut (‘asa an yakunu khoiran minhum).

Wallahualam bissawab.

Iing Khoerul Abidin