by

Alloh Menciptakan Kunci Setiap Tujuan Amal Perbuatan

SEBETULNYA  bukan hanya benda fisik yang memiliki kunci pembuka, tetapi amalan-amalan juga memiliki kunci-kunci tersendiri. Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menerangkan, Allah telah menciptakan kunci untuk membuka setiap tujuan amal perbuatan. Kunci shalat ialah bersuci. Kunci haji adalah ihram. Kunci kebajikan ialah sedekah. Kunci surga adalah tauhid.

Bukan hanya untuk amalan-amalan baik, untuk hal-hal buruk pun ada kunci-kuncinya. Apabila kita menggunakan kunci tersebut, maka terbukalah berbagai keburukan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menerangkan, bahwa Allah menjadikan syirik dan takabur sebagai kunci neraka. Minuman keras sebagai kunci kunci segala dosa. Sifat malas sebagai kunci kegagalan dan keterpurukan. Maksiat kunci kekafiran.

Dari itu, kita hendaknya memeriksa sebenarnya kunci apa yang tengah digenggam. Jangan sampai kita malah membuang kunci surga dan memegang erat kunci neraka. Alangkah meruginya! Maka ketahui diperlukan pengetahuan mendalam tentang kunci surga agar tidak salah pegang.

Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam buku Hadis Qudsi Pilihan menegaskan, Allah ingin agar kita mengerti bahwa Ia telah meletakkan kunci surga di tangan kita. Di setiap tangan kita ada petunjuk jalan yang akan mengantarkan kita ke surga atau ke neraka.

Oleh karena itu apabila engkau memenuhi janji Allah maka Ia akan memenuhi janji-Nya. Jika engkau mengingat Allah maka Allah akan mengingatmu. Jika engkau menolong Allah maka Allah akan menolongmu.

Alangkah baiknya Allah yang telah menaruh kunci surga di tangan kita dan alangkah meruginya orang yang tidak menyadari telah membuang kunci surga dan malah memegang kunci neraka. Dengan pembahasan ini, kita akan mengetahui mana kunci surga dan mana kunci neraka. Sehingga kita pun tahu mana yang harus digenggam seerat-eratnya, seteguh-teguhnya.

Benar sekali. Surga yang tak tertandingi nilainya dapat dibuka oleh siapa saja hanya dengan satu kalimat tauhid. Apa sih susahnya membaca laa ilaha illallah? Tentu tidak susah. Jadi, gampang dong? Tidak juga. Lantas bagaimana? Mari disimak dulu yang berikut ini!

Hadis yang populer dalam Sunan Abu Daud, dari Mua’dz bin Jabal, dia mengatakan, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa ucapan terakhirnya, laa ilaha illallah, maka dia masuk surga.” Al-Hakim Abu Abdullah dalam kitab Al-Mustadrak ala Ash-Shahihain berkata, “Hadis ini sanadnya shahih.”

Saking pentingnya kalimat laa ilaha illallah sebagai kunci surga, maka Imam Nawawi dalam buku Al-Adzkar mengingatkan, para ulama berpendapat, jika dia tidak bisa mengucapkan, laa ilaha illallah, maka orang yang mendampinginya hendaklah mengajarinya.

Dalam mengajari hendaklah dengan cara lembut agar tidak membuatnya menjauh sehingga menolaknya. Jika orang yang sedang sakaratul maut mengucapkannya sekali, maka sang pendamping tidak perlu mengulanginya lagi kecuali jika orang yang mengalami sakaratul maut ini berbicara kata-kata yang lain.

Sepintas lalu mudah sekali masuk surga, cukup membaca syahadat di ujung ajal. Tetapi mengucapkan satu kalimat ketika tengah bertarung dengan maut bukanlah perkara gampang, karena kita sedang dirundung rasa sakit yang tak terperikan. Dapatkah kita mengingat bahkan mengucapkan kalimat tauhid ketika berada di puncak dari segala rasa sakit?

Dari itu dibutuhkan gambaran bagaimana dramatisnya suasana sakaratul maut. Sayyid Quthb pada kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur`an menerangkan dalam hadis sahih ditegaskan bahwa setelah Rasulullah sadar dari pingsan karena menghadapi sakaratul maut, beliau mengusap keringat dari wajahnya seraya bersabda, “Subhanallah! Kematian itu memiliki beberapa hal yang memabukkan.” Beliau bersabda demikian, padahal dirinya memilih menjadi teman di kalangan malaikat yang tinggi dan merindukan perjumpaan dengan Allah. Lalu bagaimana manusia yang selainnya?

Sakaratul maut memang sangat berat, sehingga Nabi Muhammad pun pingsan melaluinya. Pada riwayat lain disebutkan sakitnya bagaikan domba yang dikuliti hidup-hidup. Ada yang sakaratul mautnya singkat, ada yang lama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbilang bulan. Makin lama sakaratul mautnya, maka kian berat rasa sakit yang dipikul.

Namun beratnya sakaratul maut bukan berarti kunci surga tidak dapat kita raih. Setelah mengetahui rahasia kunci surga, hendaknya kita lebih optimis dan lebih mempersiapkan diri. Semakin matang persiapan, makin sedikit kesalahan.

Caranya, mulailah dengan latihan sedari sekarang. Bukan sekadar latihan mengucapkan laa ilaha illallah tetapi juga meresapi saripatinya dan menancapkannya kokoh ke lubuk sanubari. Apabila kalimat tauhid itu telah menjadi keyakinan yang tertanam di hati, insyallah, lidah tidak akan kelu mengucapkannya di penghujung ajal. Sehingga kunci surga itu dapat kita boyong ketika nyawa berpisah dari raga. (F)/net